“Kesaktian tokoh agama & Penebusan dosa melalui berdana”

SD (Sharing Dharma)

Namo Sakyamuni Buddhaya

Namo Amitabha Tathagataya

Pertanyaan:

Amithofo Sami, ada teman saya yang kebetulan baru bertemu seorang tokoh agama yang mengaku ber”kemampuan khusus”, dan ia menyatakan teman saya punya banyak tumpukan dosa, sehingga akan mengalami berbagai kecelakaan. Ia juga menyarankan agar dapat berdana dengan membuat rupang Bodhisattva untuk diletakkan di viharanya, sehingga dapat terus didoakan dan mencuci dosanya.

Namun, yang menyebabkan kebingungan teman saya adalah, mengapa tokoh agama itu menetapkan nominal dana yang terasa sangat besar? dan ketika teman saya bertanya, beliau hanya menyatakan, harus percaya tanpa keraguan, baru dosanya bisa terhapus.

Tapi kalau dipikirkan, beliau mengajarkan doa Buddhis yang sudah umum dikenal juga, dan beberapa konsepnya terkadang sesuai dengan Buddha Dharma, sehingga karena pengetahuan masih terbatas, kami bingung untuk memilah-milah pernyataannya. Bagaimana pendapat sami?

Jawab:

Salam hangat sahabat,

Buddha menyatakan bahwa ajaranNya adalah bersifat Ehipassiko, yang artinya Datang, dan Lihatlah (buktikanlah).

Hyang Guru Buddha Sakyamuni yang merupakan Makhluk Paling Sempurna di segenap semesta, guru para dewa dan manusia, dengan 32 Maha Purisa Laksana dan 18 kualitas sempurna saja, menekankan pentingnya manusia untuk tidak menerima sesuatu hanya berdasar “figur” sumber informasi, melainkan menelaahnya terlebih dahulu. Padahal bila dipahami, kata-kata Hyang Guru Buddha sendiri sudah pasti benar (tidak mungkin berbohong karena keterbebasanNya dari kepentingan pribadi dan tidak akan berbicara atas ketidaktahuan dikarenakan kesempurnaan pengetahuanNya)

Sehingga, penelaahan ajaran, terutama Ajaran Buddha berdasar itikad baik adalah sesuatu yang bhkan DIWAJIBKAN bagi umat Buddha, karena, tujuan Hyang Guru Buddha Sakyamuni adalah pen-cerdas-an semua makhluk, bukannya pemotongan kreativitas berpikir kita, atau bahkan menyuruh kita percaya begitu saja.

Upaya sahabat mempertanyakan masalah ini saja, sudah sesuai dengan pesan utama Hyang Guru Buddha Sakyamuni. Sahabat merasa adanya kejanggalan dari ia yang mengaku sebagai “wakil” atau “murid” dari Hyang Guru Buddha Sakyamuni, sehingga mempertanyakan ini untuk mencari informasi pembanding, yang tentu saja, tulisan singkat melalui media sosial ini juga perlu sahabat telaah secara logis “apakah berbasis pada Ajaran Hyang Buddha Sakyamuni dalam sutra-sutra”.

Baiklah, kepada pertanyaan sahabat:

1. Mengenai tokoh agama yang mengaku ber”kemampuan khusus”.

Apabila ia yang menyatakannya sendiri, terlepas dari benar tidaknya, bila dimaksudkan untuk popularitas, penarikan umat dan dana, sudah melanggar peraturan yang ditetapkan Hyang Guru Buddha Sakyamuni, terkait penunjukkan kesaktian guna menarik umat. Bahkan ini dapat menyebabkan pelaku dikeluarkan dari komunitas Sangha.

Darimanakah peraturan ini berasal? Tentunya sami jauh dari kapasitas untuk menyampaikan pendapat pribadi, sahabat, sami hanya dapat sedikit berusaha membantu menyambungkan pertanyaan sahabat pada apa yang sudah Hyang Guru Buddha Sakyamuni ajarkan. Sehingga, bukanlah sami yang menjawab, melainkan cuplikan sutralah yang memimbing sahabat menemukan jawaban yang pada dasarnya sudah ada pada nurani terdalammu..

“Kisah tentang Yang Arya Pindola Bharadvaja” Ketika Yang Arya Pindola Bharadvaja mempertunjukkan kesaktianNya dengan terbang mengambil mangkuk cendana sayembara dari seorang kaya di Rajagaha yang menyatakan tidak ada lagi orang suci di dunia, Hyang Guru Buddha Sakyamuni menegur beliau dan melarang semua muridNya untuk melakukan hal demikian. Bahkan, mangkuk cendana yang sangat mahal tersebut dihancurkan menjadi bubuk sebagai tanda keseriusan peraturan ini.

Dalam Sutra Kelenyapan Dharma dan FoShuo TaSheng JinGangJing Lun, dalam menjawab pertanyaan Manjusri Bodhisattva, Hyang Guru Buddha Sakyamuni menyatakan bahwa Mara Boxun akan memasuki komunitas Sangha, dengan jubah Sangha menyebarkan berbagai ajaran menyimpang yang mirip dengan Buddha Dharma, memukau umat manusia dengan berbagai kegaiban yang mempesona. (inilah salah satu penyebab mengapa Hyang Guru Buddha Sakyamuni menggariskan peraturan bahwa siswa sejatiNya tidak boleh mempertunjukkan kesaktian, apalagi menyatakan di depan umum)

Sami secara pribadi ingat dengan salah satu pesan dari seorg anggota sangha dari luar negeri: “Umat Buddha di Indonesia cukup memprihatinkan, banyak “figur” terutama dari luar negeri yang mengaku memahami Dharma, memperalat mereka. Ini disebabkan, kekurangan materi Sutra dalam bahasa Indonesia, sehingga mereka hanya mendengar kata-kata “figur” begitu saja dan percaya, sungguh disayangkan.”

Dengan memahami ini, tentunya kita sadar, bahwa, kita tidak boleh menyebarkan keburukan empat golongan (bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika), melainkan, ketika kita bertemu dengan orang yang sedemikian, kita perlu mulai menjaga diri dan mengambil langkah mundur teratur karena sudah paham bahwa, siswa Hyang Guru Buddha Sakyamuni yang sejati, akan mengetahui dan menjunjung tinggi peraturan ini.

Dengan demikian, kesimpulan tindakan dapat sahabat ambil berdasar penelaahan sahabat sendiri.

2. Menyikapi pernyataan sahabat tentang “tapi kalau dipikirkan, beliau mengajarkan doa Buddhis yang sudah umum dikenal juga, dan beberapa konsepnya terkadang sesuai dengan Buddha Dharma, sehingga karena pengetahuan masih terbatas, kami bingung untuk memilah-milah pernyataannya.”

Secara kebetulan, membuat sami teringat pada satu bacaan di salah satu sutra karena sangat senada: dalam Maha Ratnakuta Sutra, Hyang Guru Buddha Sakyamuni menyatakan pada Yang Arya Maha Kasyapa, tentang bagaimana Komunitas sangha pada masa kelenyapan Dharma (mulai sejak 500 tahun setelah Hyang Guru Buddha Sakyamuni Parinirvana) akan dipenuhi mereka yang menekankan kepentingan materi, menggunakan Buddha Dharma dengan motivasi terselubung untuk kepentingan diri sendiri, sehingga sulit disadari umat yang belum memahami Buddha Dharma.

Memahami ini, tentu saja keraguan yang terlintas dalam benak sahabat, bukan sesuatu yang tanpa dasar dan tanpa alasan. Sekitar 2500 tahun yang lalu Hyang Guru Buddha telah mengetahui bahwa ini semua akan terjadi dan sangat sesuai dengan apa yang telah anda nyatakan baru saja.

Memang pada zaman kelenyapan Dharma ini, antara emas (Dharma Sejati) dan kuningan (dharma palsu) hanya bisa dibedakan mereka yang memegang alat panduan penakar emas (Sutra-sutra Buddhis).

Dengan memahami ini, tentunya kita sadar, bahwa, kita tidak boleh menyebarkan keburukan empat golongan (bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika), melainkan, ketika kita bertemu dengan orang yang sedemikian, kita perlu mulai menjaga diri dan mengambil langkah mundur teratur karena sudah paham bahwa, siswa Hyang Guru Buddha Sakyamuni yang sejati, akan mengetahui dan menjunjung tinggi kesederhaan dan senantiasa berhati-hati agar tidak melanggar peringatan hyang Guru Buddha Sakyamuni ini.

Dengan demikian, kesimpulan tindakan dapat sahabat ambil berdasar penelaahan sahabat sendiri.

3. Tumpukan karma buruk, pertobatan.

Secara sederhana, sahabat bebas melakukan perbuatan baik apapun untuk melunasi karma buruk sahabat. Dana terbesar ditentukan pada ketulusan dan perendahan hati ketika berdana, sahabat.

Buah dari dana ditentukan bukan oleh nominal, dapat kita temukan dalam cerita tentang seorang nenek pengemis yang menjual rambutnya demi mempersembahkan beberapa tetes minyak untuk pelita kecil di sisi Hyang Guru Buddha Sakyamuni. Ketika badai bertiup, semua pelita besar dari raja, terpadamkan, tersisa pelita kecil itu yang menyala..

(sebagai informasi, penggunaan dalih “berdana” dengan nominal tertentu memang sudah umum digunakan oknum berkedok agama sejak zaman purba, semoga kita dapat terbebas dari pandangan salah seperti itu agar tidak terugikan, dimana Hyang Guru Buddha Sakyamuni justru mengajarkan sangat banyak cara untuk mengikis karma buruk seberat apapun)

Sehingga tentunya
Pertobatan dapat dilakukan dengan membaca “Sutra 88 Buddha, Maha Karuna Dharani –> penjelasan lebih lanjut di Nilakantha Sutra”

Dengan memahami ini, tentunya kita sadar, bahwa, kita tidak boleh menyebarkan keburukan empat golongan (bhiksu, bhiksuni, upasaka, upasika), melainkan, ketika kita bertemu dengan orang yang tidak menyesuaikan dirinya dengan sabda Hyang Guru Buddha Sakyamuni, kita perlu mulai menjaga diri dan mengambil langkah mundur teratur karena sudah paham bahwa, siswa Hyang Guru Buddha Sakyamuni yang sejati, akan mengetahui dan menjunjung tinggi kesederhaan dan senantiasa berhati-hati agar tidak melanggar peringatan hyang Guru Buddha Sakyamuni ini, tentang kekuatan berdana yang sesungguhnya bukan terletak pada besar kecil dana.

Serta, kekuatan pertobatan dari Nilakantha Sutra, yang DAPAT JUGA DIBACA SENDIRI, tanpa harus melalui, kembali lagi, seorang “figur” yang dianggap ber”kemampuan khusus”. Untuk keterangan tentang Maha Karuna Dharani, dapat juga dgn mencari video Maha Karuna Dharani with Indonesian Text. Bila sahabat dapat senantiasa merenungkan kewelasasihan para Buddha Bodhisattva dan meneladani mereka, niscaya segala karma buruk dapat terkikis dengan signifikan. Video ini mungkin juga sahabat rekomendasikan pada sahabat seDharma lainnya yang membutuhkan inspirasi tambahan dalam mempelajari Buddha Dharma.

Setelah menonton video yang berbasis pada Nilakantha Sutra yang diajarkan oleh Hyang Guru Buddha Sakyamuni ini, mungkin sahabat baru akan dapat merasakan keindahan kelembutan Buddha Dharma yang tidak ditunggangi kepentingan pribadi, Buddha Dharma yang sesungguhnya bercita rasa ketulusan.

Dengan demikian, kesimpulan tindakan dapat sahabat ambil berdasar penelaahan sahabat sendiri.

Semoga sedikit ulasan singkat dari penghubungan masalah yang sedang sahabat hadapi dengan sutra dari Hyang Guru Buddha Sakyamuni, dapat memberikan sedikit semangat dan membantu meringankan kebingungan sahabat.

Dan semoga saja sahabat semakin bergiat dalam mendalami keindahan Buddha Dharma yang sesungguhnya dan memetik manfaat tak terkira dari ajaran Hyang Guru Buddha.

Sami mohon maaf atas segala keterbatasan sami dalam merapikan penyampaian yang diketik terburu-buru ini yah.

Salam hangat sahabat.

Semoga senantiasa berbahagia agar dapat selalu menebarkan kebahagiaan pada semua makhluk.

Amithofo

__/\__

Salam Mudita

SV.06.2013